Laporan Praktikum Ilmu Penyakit Hutan (Pengenalan Gejala dan Tanda)

· Praktikum
Authors

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU PENYAKIT HUTAN

PENGENALAN GEJALA DAN TANDA

 

 

 

 

Di susun oleh

IVAN PRIMAJOHAN SUPRIATNA (34100089)

Mayor : Proteksi Tanaman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dosen Pengajar :

Dr. Ir. Elis Nina Herliyana M.Si

DEPARTEMEN SILVIKULTUR

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

 

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

            Tumbuhan mengalami sakit ketika salah satu atau beberapa fungsi fisiologi tumbuhan menjadi abnormal karena adanya gangguan patogen atau lingkungan abiotik. Gejala yang berbeda dapat ditimbulkan oleh patogen yang sama pada inang (tumbuhan) yang berbeda, begitu pula gejala yang sama dapat ditimbulkan oleh patogen yang berbeda pada tumbuhan (inang) yang sama.

 

Tujuan

            Mengenal dan mengetahui beberapa gejala dan tanda patogen pada tanaman jati di wilayah Purwakarta, Jawa Barat.


 

METODE PELAKSANAAN

 

Alat dan Bahan

Beberapa bagian dari jati (daun dan pucuk) yang terserang patogen, beberapa peralatan laboratorium yang disiapkan untuk pengamatan mikroskopik (mikroskop, preparat, air destilata, dan kamera).

 

Metode Praktikum

            Pengamatan langsung di laboratorium penyakit hutan departemen silvikultur IPB dan mencari literatur tambahan tentang gejala penyakit hutan pada jati dari beberapa sumber bacaan.


 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Hasil Pengamatan

  1. Penyakit Karat pada Daun Jati

Makroskopis                            Mikroskopis

Gambar 1. Karat pada daun jati            Gambar 2. Gejala mikroskopis karat pada daun jati

  1. Layu Pucuk pada Jati

Makroskopis

Gambar 3. Gejala layu pucuk pada daun jati

Gejala lebih lanjut ketika Jati yang terserang Pseudomonas tectonae dibiarkan tumbuh

Gambar 4. Literatur jati terserang rayap

  1. Mati Pucuk (Pecut) pada Jati

Mikroskopis                                                       Mikroskopis

Gambar 5. Tubuh buah Phoma sp.                         Gambar 6. Literatur tubuh buah Phoma sp.

Pembahasan

            Penyakit karat pada daun jati disebabkan oleh cendawan Olivia tectonae. Cendawan ini merupakan parasit obligat yang hanya mampu hidup pada inang (jati) yang masih hidup. Gejala yang ditimbulkannya merupakan bercak yang berwarna cokelat hingga hitam yang tersebar di bagian daun. Pada gejala mikroskopis, cendawan ini sering membentuk fase spora yang membulat dan berduri yang disebut uredospora. Pada pengamatan kali ini ditemukan beberapa jenis cendawan yang berasosiasi dengan cendawan penyebab karat pada daun jati. Hifa senosit dengan beberapa sporangium dapat dilihat dari penampakan gejala mikroskopis yang diinokulasi dari gejala karat tersebut. Spora pada cendawan ini akan berkecambah ketika lingkungan sekitar dari cendawan ini mendukung kehidupannya. Gejala nekrosis yang ditandai dengan kematian jaringan pada daun Jati merupakan gejala yang tampak nyata karena cendawan ini mampu menyerap nutrisi sel pada jaringan daun jati tersebut. Gejala awal yang disebabkan cendawan ini merupakan titik-titik berwarna gelap yang terletak di satu spot pada daun, hal ini memungkinkan upaya pengendalian pada jenis cendawan ini, yaitu dengan cara menghilangkan daun yang terinfeksi agar gejala yang timbul tidak meluas hingga ke sel atau jaringan yang belum terinfeksi. Penggunaan fungisida merupakan upaya terakhir yang dapat dilakukan jika gejala penyakit ini tidak dapat dilakukan dengan cara lain, yaitu dengan menyemprotkan larutan fungisida ke bagian daun yang terserang cendawan karat ini atau dapat menggunakan infus fungisida yang ditancapkan kedalam batang yang sebelumnya telah dilubangi oleh bor atau paku.

Penyakit layu pada pucuk jati disebabkan oleh bakteri Pseudomonas tectone. Pewarnaan pada bagian batang muda bagian dalam merupakan gejala yang dapat diamati secara langsung di lapangan. Mekanisme penyerangan dari patogen ini adalah dengan cara menyumbat jaringan pembuluh pada tanaman inang (jati). Tilosit merupakan respon inang yang ditimbulkan akibat infeksi dari serangan bakteri ini. Tilosit dapat menyebabkan keadaan tanaman menjadi tambah parah karena pembesaran bagian sel di tepian pembuluh dapat menyumbat jaringan pembuluh sehingga tanaman menjadi layu. Tanaman yang dapat terserang penyakit layu bakteri ini umumnya tanaman di bawah umur 1 tahun. Namun demikian pada kondisi iklim dan tanah yang mendukung, maka tanaman jati sampai dengan umur 5 tahun dapat terserang dan mengalami kematian. Daun menjadi layu, menggulung, kemudian mengering dan rontok. Batang kemudian layu dan mengering. Bilamana akar diperiksa, kondisi akar sudah rusak. Daun layu (gejala awal), kondisi kulit batang tampak masih terlihat segar/sehat. Namun bilamana diperiksa lebih lanjut dengan memotong dan menyeset kulit/membelah batang yang terserang maka akan dapat dilihat bahwa bagian jaringan kambium dan kayu gubal (xylem) telah mengalami kerusakan, walaupun jaringan kulit (floem) masih terlihat hijau segar. Pada kambium atau permukaan luar kayu gubal dapat dilihat garis-garis hitam membujur sepanjang batang. Untuk mengetahui penyebab penyakit layu pada tanaman jati muda ini (penyebab penyakit jamur ataukah bakteri), dapat dilakukan uji cepat di lapangan. Caranya adalah dengan memotong batang atau cabang tanaman yang mengalami gejala layu dan memiliki garis-garis hitam membujur sepanjang xylem di atas.  Batang muda atau cabang yang telah berkayu dipotong dengan panjang 20 – 30 cm, kemudian potongan di bagian ujung batang/cabang dimasukkan ke dalam gelas yang berisi separuh gelas air jernih. Bilamana penyebab penyakit layu disebabkan bakteri, maka akan keluar cairan putih susu kental keluar dari potongan batang yang di dalam air. Cairan putih ini adalah koloni bakteri patogen yang biasa disebut dengan ooze. Bilamana gejala kerusakan terjadi pada tanaman di atas 1 tahun, untuk mengecek keberadaan bakteri dapat dilakukan dengan memotong cabang/batang tanaman yang telah terserang. Potongan cabang/batang dibiarkan beberapa menit, maka akan terlihat cairan putih kental keluar dari bagian xylem atau dari kambium (jaringan antara xylem dan floem). Bakteri penyebab penyakit layu pada tanaman jati muda (Pseudomonas tectonae) berkembang pada lahan jati terutama pada kondisi solum yang sangat lembab, yaitu pada musim hujan dengan curah hujan tinggi dan dengan kondisi drainase buruk. Waktu antara gejala awal penyakit sampai dengan tanaman jati muda yang terserang menjadi mati tergantung pada umur tanaman yang terserang. Tanaman < 1 tahun  : proses kematian berkisar 1 – 2 minggu; sedangkan pada serangan pada tanaman > 1 tahun : proses kematian mencapai beberapa bulan.

Pengendalian penyakit layu bakteri dapat dilakukan dengan cara biologi, kimiawi, dan silvikultur. Untuk serangan pada masa persemaian, cocok dilakukan pengendalian dengan cara biologi dan kimiawi. Adapun untuk kasus serangan pada tanaman yang sudah ada di lapangan, maka cara silvikultur lebih efektif dan aman. Cara biologi dilakukan dengan menggunakan bakteri antagonis Pseudomonas fluorescens dengan konsentrasi 108 cfu/ml dengan dosis 15 – 25 ml/pot semai, disemprotkan ke seluruh permukaan tanaman dan sekitar perakaran. Hasil uji coba Pseudomonas fluorescens efektif menekan bakteri patogen P. Tectonae, dengan meningkatnya persen tumbuh bibit dari 70% menjadi 100%. Cara kimiawi menggunakan bakterisida, disemprotkan ke seluruh permukaan tanaman dan sekitar perakaran. Cara silvikultur dilakukan dengan menyediakan lingkungan tempat tumbuh tanaman hutan sehingga dapat diperoleh tanaman sehat dengan produktivitas tinggi. Aplikasi silvikultur untuk penanganan penyakit layu bakteri adalah dengan memperbaiki drainase lahan dan pengaturan jenis tumpang sari pada tanaman pokok jati.  Kedua langkah tersebut perlu dilakukan agar dapat diperoleh zona perakaran jati yang sarang, tidak jenuh air, sebuah persyaratan yang dibutuhkan bagi budidaya jati yang sehat. Perbaikan drainase lahan dilakukan dengan pembuatan parit-parit drainase khususnya di daerah-daerah dengan topografi datar. Jenis tumpangsari jati – padi cenderung menciptakan lingkungan tempat tumbuh yang buruk bagi tanaman pokok jati.

Penyakit mati pucuk pada tanaman jati disebabkan oleh cendawan Phoma sp. Gejala yang ditimbulkan berupa titik-titik di dalam batang. Cendawan ini tergolong ke dalam Askomycetes yang memiliki hifa septat pada struktur vegetatifnya dan sering membentuk peritesium ketika lingkungan mengalami keadaan yang ekstrim. Gejala ini sering disebut dengan penyakit pecut karena penampakan batang dengan daun muda rontok yang menjulang tampak seperti pecut (cemeti). Pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan memotong bagian pucuk / batang yang terserang agar patogen tersebut tidak menyebar ke seluruh bagian tanaman (jati). Cara silvikultur dapat dilakukan untuk penanganan penyakit ini. Begitu juga cara pengendalian menggunakan fungisida seperti penanganan penyebab penyakit karat pada daun jati dapat diterapkan untuk mengatasi gejala penyakit ini.

KESIMPULAN

 

Patogen penyebab penyakit pada tanaman kehutanan (khususnya jati) dapat disebabkan oleh nematoda, cendawan, bakteri, virus, dan molikut. Gejala penyakit pada pohon jati kebanyakan diakibatkan oleh cendawan, ini dibuktikan dengan banyaknya gejala yang diamati pada pengamatan kali ini yang sebagian besar diakibatkan oleh cendawan.

DAFTAR PUSTAKA

 

Hendromono dkk. 2001. Mindi Melia azerdarach L. Balitbang Kehutanan Departemen Kehutanan. Jakarta

Nair, KSS. 2001. Pest Outbreaks In Tropical Forest Plantation. CIFOR. Bogor

Nair, KSS. 2000. Insect Pests And Diseases In Indonesia Forest. CIFOR. Bogor

Priyanto, Hari. 1999. Survey Of Entofauna with Emphasis On Pest In Teak (Tectona grandis L.f) In Central Java And East Java, Indonesia. Thesis. Gottingen, Germany

Pusat Penelitian & Pengembangan Perum Perhutani. 2007. Prosiding Hasil Penelitian dan Pengembangan. Puslitbang SDH Perhutani. Cepu

Pusat Penelitian & Pengembangan Perum Perhutani. 2008. Seri Informasi Teknik Pengendalian Hama-Penyakit Tanaman Hutan (Jati, Pinus, Kayu Putih, Sengon). Pusat Penelitian & Pengembangan Perum Perhutani. Cepu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: